Di era globalisasi yang makin canggih ini bukan hanya orang orang dewasa ataupun para pendidik yang menggunakan teknologi informasi atau yang lebih dikenal dengan IT. Anak- anak atau remaja dibawah tujuh belas tahun pun sudah mahir menggunakan IT bahkan melebihi kepintaran orang dewasa. Hal ini juga terjadi dikota tempat penulis tinggal.

 

 

Berdasarkan pengamatan penulis, penggunaan teknologi informasi terutama yang dilengkapi dengan fasilitas internet di rumah maupun di sekolah lebih sering digunakan oleh anak- anak dan remaja dibandingkan dengan orang tua ataupun guru. Pemanfaatan IT di kalangan anak- anak dan remaja di kota depok mencapai 93%.

Banyaknya persentase ini didapat berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga survey pendidikan di beberapa sekolah swasta maupun negeri di kota Depok. Sekitar 90% anak-anak atau remaja menggunakan pemanfaatan IT dengan cara bermain atau menggunakan komputer yang dilengkapi dengan fasilitas internet sedangkan 3% anak-anak atau remaja hanya bermain atau menggunakan komputer tanpa fasilitas internet. 50% dari pemain internet kerap kali membuka games online atau pun sekedar situs pertemanan. Hanya ada 5- 10% anak- anak yang membuka situs pendidikan.

Depok juga dapat disebut dengan kota pendidikan, karena ada 2 universitas besar, yaitu Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gunadarma. Universitas Gunadarma juga merupakan Perguruan tinggi Komputer Swasta yang terkenal, sehingga banyak Dosen maupun mahasiswa yang ahli dalam Bidang IT. Itulah salah satu sebab mengapa Depok bisa dinamakan Kota Pendidikan berbasis IT. Berdasarkan pengamatan penulis ada sekitar minimal 20 warnet disetiap kecamatan yang berdiri di Depok.

Ditambah lagi dengan pengguna internet pribadi dengan menggunakan Speddy, Indosat, Telkom flash. Selain itu juga banyak pengguna mobile internet dengan menggunakan USB modem. Sekarang di kota Depok sudah ada beberapa sekolah menengah yang menggunakan fasilitas multimedia yang dilengkapi dengan internet sebagai media pembelajaran di sekolah. Dengan penggunaan fasilitas multimedia ini diharapkan para bapak dan ibu guru dapat menyampaikan bahan ajar kepada siswa-siswinya dengan lebih menarik karena pembelajaran dapat dilengkapi dengan film, flash, animasi, bahkan dengan musik, sehingga diharapkan para siswa dapat dengan mudah memahami pelajaran yang disampaikan.

Bahkan para siswa dan siswi juga dapat menggunakan fasilitas tersebut pada jam istirahat, walaupun yang dilihat hanya situs pertemanan atau situs video. Namun, pemakaian multimedia ini kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh banyak guru yang ada di sekolah berbasis multimedia. Padahal seharusnya guru- guru yang mengajar pada sekolah berbasis multimedia sudah bisa memanfaatkannya secara optimal dan maksimal. Contohnya saja di sebuah sekolah swasta di kota Depok. Sekolah tersebut sudah berbasis multimedia tetapi Bapak dan Ibu gurunya tidak menggunakan fasilitas itu dengan baik. Mereka hanya bisa menggunakan Microsoft Word.

Padahal mereka seharusnya bisa menggunakan Microsoft Power Point untuk membuat tulisan mereka menjadi menarik. Ada juga beberapa guru yang menggunakan Microsoft Power point tetapi hanya berupa deretan tulisan saja. Tidak dilengkapi dengan video, flash atau animasi yang dapat memperjelas pembelajaran. Guru- gurunya pun tidak terlatih menggunakan peralatan IT yang ada di dalam kelas sehingga masih meminta bantuan siswa-siswinya atau guru TIK untuk mengoperasikan alat tersebut.

Di sekolah-sekolah penggunaan IT secara keseluruhan sendiri pun kurang dimanfaatkan dan di perhatikan oleh warga sekolah. Jika internet sudah dipasang maka dipastikan siswa-siswi membuka situs jejaringan dan semacamnya. Pemanfaatan IT yang baik dan benar sampai sekarang belum tercapai di kota Depok. Siswa-siswi hanya tahu mengenai teknologi informasi, tahu membuka internet tetapi tidak tahu bagaimana menggunakan dan mengembangkannya secara maksimal.

Terhitung sejak tanggal 1 November 2009 ada sekitar 40% penduduk Indonesia khususnya kota Depok yang mendaftar di situs pertemanan. Dan hanya ada 10- 20% orang yang sadar akan pentingnya pendidikan. Dari survey yang sudah dilakukan ada sekitar 100 restoran dan semacamnya yang sudah memiliki hotspot di tempatnya. Dan hanya 37% yang menggunakannya untuk mencari dan membuat tugas-tugas sekolah . Yang lainnya hanya menggunakan untuk bermain atau semacamnya.

 

 

Advertisements

Siapa yang tak kenal Universitas Indonesia (UI), sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia yang terletak di Kota Depok. Selain UI, banyak lagi universitas swasta terkenal yang berada di Kota Depok. Sehingga masyarakat dari seluruh pelosok Indonesia berduyun-duyun mendatangi Depok demi mengejar mutu pendidikan terbaik di negeri ini.

Kualitas pendidikan di Depok memang terbaik. Bisa dikatakan, layak jika Kota Depok ditasbihkan  sebagai  kota pendidikan. Terbukti,  pelajar di Kota Depok banyak terpilih dan meraih prestasi pada berbagai ajang olimpiade sains untuk mewakili Propinsi Jawa Barat, nasional, hingga level internasional.

Untuk tahun 2010, banyak pelajar Depok yang berprestasi di dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Antara lain Imam Agung Raharja yang berasal dari SMA Pribadi Depok dengan memperoleh Emas untuk cabang Fisika. Lukman Hakim dari SMAN 1 Depok memperoleh Emas untuk cabang Kimia, dan Rahganda dari SMA Pribadi Depok dengan pretasi medali Perak. Di Cabang Fisika, Ervano Nurriyadi dari SMAN 2 Depok memperoleh mendali Perunggu. Sedangkan di cabang  Astronomi, Muhammad Iqbal Imaduddin dari SMAN 1 Depok memperoleh perunggu.  Untuk cabang  Ekonomi, Atikah Nur Pajriyah Raharja dari SMAN 2 Depok mendapatkan mendali Perunggu.

Tidak hanya di kancah nasional, di kancah internasional pelajar Kota Depok juga memiliki prestasi. Salah satunya Alham Fikri Aji, siswa SMAN 1 Depok yang juga merupakan anggota kontingen Tim Olimpiade Komputer Indonesia dalam International Olympiad in Informatics (IOI) ke-22 di Kanada yang berlangsung pada bulan Agustus lalu. Dalam perlombaan tersebut Aji memperoleh prestasi dengan mendapatkan medali perak. Dengan prestasi tersebut, Aji tidak hanya mengharumkan Kota Depok namun juga bangsa Indonesia.
Tenaga pendidik atau guru Depok tak kalah dalam prestasi.  Diantaranya Listiyawati, S.Pd.Bio, guru SMPN 6 Depok, meraih Juara II guru Berpretasi tingkat SMP tingkat nasional.  Dan M.Taufiqurrahman, SS, Kepala Sekolah TK Tunas Global Depok menjadi Juara III Kepala Sekolah berprestasi tingkat nasional.

Semua prestasi yang diraih adalah sebagai wujud keberhasilan tidak hanya pemerintah namun masyarakat pendidikan Kota Depok. Sebab pendidikan adalah pintu gerbang kemajuan sebuah bangsa. Dengan prestasi yang sudah terukir tersebut, Kota Depok menjadi salah satu barometer pendidikan di Indonesia.

 

 

Kota Depok secara geografis mempunyai kedudukan yang cukup strategis sebagai pendukung ibukota Negara dan ditetapkan sebagai pusat kegiatan nasional terletak di wilayah Jawa Barat yang terletak diantara 106 55’ 30″ bujur timur dan 6 19’ 00” lintang selatan. Kota Depok secara administratif berbatasan dengan daerah kabupaten/kota lainnya, yaitu : sebelah utara berbatasan dengan Jakarta, sebelah barat berbatasan dengan Tangerang Banten, sebelah selatan berbatasan dengan Bogor. Dalam usianya yang ke 10, dengan modal dasar yang dimiliki antara lain: Letak yang strategis yaitu pada poros Jabodetabek sehingga memiliki tingkat mobilitas penduduk yang tinggi, jumlah penduduk yang cukup banyak sebagai pendukung pembangunan daerah, keanekaragaman sosial dan budaya yang merupakan daya tarik daerah, sumber daya lokal berupa pertanian perkotaan,industri kecil dan menengah, serta perdagangan dan jasa yang menggerakan ekonomi lokal, Kota Depok telah merangkak maju menuju kota yang mandiri dan sejahtera. Kemajuan Kota Depok tidak lepas dari keberhasilan pemerintahannya, terutama 5 tahun terakhir.

KEBERHASILAN PEMERINTAHAN DEPOK PERIODE 2006-2011

BIDANG PENDIDIKAN
Kepedulian Pemerintah dalam bidang pendidikan dapat tercermin dari alokasi anggaran untuk Dinas Pendidikan,
Tahun 2006 Rp. 143,4 Miliar
Tahun 2007 Rp. 169,9 Miliar
Tahun 2008 Rp. 209,7 Miliar
Tahun 2009 Rp. 252,5 Miliar

SD Negeri Gratis
Beasiswa sebesar Rp. 10.000 per siswa bagi siswa SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK baik sekolah negeri maupun swasta
INSENTIF RT, RW DAN LPM
1. Tahun 2006  = 200.000(RT), 300.000(RW)
2. Tahun 2007 = 400.000(RT), 600.000(RW),  1 jt(LPM)
3. Tahun 2008 =  400.000(RT), 600.000(RW), 1 jt(LPM)
4. Tahun 2009 = 600.000(RT), 800.000(RW), 1 jt(LPM)
5. Tahun 2010 = 700.000(RT), 900.000(RW), 2 jt(LPM)

REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI
Sejak tahun 2006-2009 sudah ratusan rumah tidak layak huni yang sudah direhabilitasi.

NIKAH MASSAL GRATIS
Tahun 2007 = 621 pasangan
Tahun 2008 = 450 pasangan
Tahun 2009 = 150 pasangan

BIDANG KESEHATAN
Sejak 17 April 2008 Rumah Sakit Daerah Kota Depok telah beroperasi. Bukan sekedar beroperasi tapi di tengah usianya yang masih sangat muda pada 16 Juni 2009 mendapatkan ISO 9001:2008 dan mendapatkan akreditasi Depkes RI untuk 5 pelayanan (Desember 2009)

Bentuk kepedulian pemerintah dalam layanan kesehatan khususnya kepada masyarakat kurang mampu dilakukan melalui SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Dari tahun ke tahun alokasi anggaran untuk SKTM selalu ditingkatkan
Tahun 2007 = Rp. 2    Miliar
Tahun 2008 = Rp. 2,9 Miliar
Tahun 2009 = Rp. 6,4 Miliar (Agustus 2009)
Sampai akhir 2009 sekitar 10 Miliar. Saat ini sedang diupayakan untuk membuat program jaminan kesehatan masyarakat Daerah (Jamkesda)

SANTUNAN KEMATIAN
Salah satu program pemerintah Kota Depok adalah santunan kematian. Sampai saat ini sudah 14.544 orang yang tersantuni, dengan rincian sbb :
September 2007 – Agustus 2008     = 5.795 jiwa
September 2008 – Agustus 2009     = 6.084 jiwa
September 2009 – Desember 2009 = 1.765 jiwa
Santunan kematian ini akan tetap dilakukan sampai Bulan Desember 2010

PEMBANGUNAN JALAN
Jalan Negara : 14,31 km
Jalan Propinsi : 19,16 km
Jalan Kota : 473,02 km
Total : 506,49 km

Yang sudah terbangun sampai saat ini : 405,54 km atau 80,07%
Yang belum terbangun : 96,38 km atau 19,03%
Pembangunan merata sampai ke kampung-kampung
Sebagian besar pembangunan jalan menggunakan beton
Pelebaran jalan Margonda di kedua sisi tahun 2010
Rencana pembangunan jalan Tol

PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)
Capaian yang cukup menggembirakan bukan hanya pada sektor infrastruktur saja. Pada bidang pendapatan pun terjadi kenaikan yang cukup signifikan.
Tahun 2006 : Rp. 67,2 Miliar
Tahun 2007 : Rp. 86,3 Miliar
Tahun 2008 : Rp. 112,7 Miliar

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)
Salah satu indicator yang sering digunakan sebagai alat ukur keberhasilan pembangunan adalah indeks pembangunan manusia (IPM). Berikut gambaran IPM Kota Depok dibandingkan dengan IPM nasional dan Provinsi Jawa Barat
Nasional (BPS)     : 71,17 tahun 2008
Provinsi Jawa Barat : 71,12 tahun 2008
Kota Depok : 78,22 tahun 2008
IPM Depok No. 3 di Indonesia, No. 1 di Jawa Barat

ANGKA HARAPAN HIDUP
Nasional : 67,2 tahun
Propinsi : 67,6 tahun
Depok : 73,1 tahun
Angka Harapan Hidup Kota Depok tertinggi di Jawa Barat.

PELAYANAN UMUM
Dalam bidang layanan umum Pemerintah Kota Depok terus melakukan peningkatan dan perbaikan. Hasil dari upaya perbaikan pelayana umum ditujukan oleh Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM)
Tahun 2007  : 71,17
Tahun 2008 : 75,71
Tahun 2009 : 77,14

LAYANAN UMUM
Dalam bidang layanan umum masyarakat sering mengeluhkan masalah pembuatan KTP yang prosesnya lama karena harus dipusatkan di dinas kependudukan. Hal ini semata-mata adalah amanah UU No. 23/2006 tentang kependudukan. Akan tetapi sejak Januari 2010 pengurusan KTP diperluas ke Kecamatan da untuk beberapa daerah ada yang di kelurahan. Di samping itu, pemerintah juga menyediakan kemudahan lain berupa mobil keliling khusus untuk mengurus perpanjangan KTP.

Keberhasilan tersebut sangat dipengaruhi oleh peran pemimpin Kota Depok selama 5 tahun terakhir, yaitu Dr. Ir. Nur Mahmudi Isma’il, MSc. Pemimpin yang tumbuh dari rakyat dan senantiasa berjuang bersama rakyat. Pak Nur sebagai anak desa yang kemudian berhasil menjadi seorang ilmuwan memiliki komitmen terhadap pembangunan yang pro rakyat. Perjalanan meretas kemajuan yang beliau alami memberi inspirasi terhadap program-program pembangunan yang memiliki daya ungkit bagi kesejahteraan rakyat.
Pak Nur sebagai seorang doktor teknologi pangan mengawali karir di Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Namun pengalaman kepemimpinan tampak lebih dominan mewarnai kehidupan beliau. Mulai dengan amanah sebagai Presiden Partai Keadilan tahun 1998, sebagai Menteri Kehutanan dan perkebunan tahun 1999, hingga menjadi Walikota Depok periode 2006-2011. Dengan keandalan kepemimpinan tersebut, Pak Nur membawa kemajuan yang cukup signifikan bagi pembangunan Depok.

Sejalan dengan komitmen pro rakyat Pak Nur, segenap keluarga pun mendukung. Ibu Nur Azizah, Sang istri aktif berkiprah di PKK, karena program-program PKK terbukti efektif dalam memberdayakan masyarakat. Bu Nur kerap mengunjungi warga hingga ke pelosok kampung untuk dapat berdialog dan mengajak para Ibu berperan membangun Kota Depok.

Di samping itu, keluarga Pak Nur juga mencerminkan keluarga pembelajar. Mereka mencintai buku sebagai sumber ilmu. Tak kurang dari 500 judul buku mengisi perpustakaan keluarga. Profil keluarga yang jauh dari kesan glamor inihttp://www.dakwatuna.com/2010/empat-tahun-jadi-walikota-kekayaan-nur-mahmudi-tidak-bertambah/, memang lebih mengutamakan membeli buku daripada benda-benda konsumtif. Karena buku sudah merupakan kebutuhan mutlak bagi keluarga ini. Tak heran bila kemudian anak-anak mereka pun berprestasi. Sang Ibu yang juga merupakan dosen Institut Ilmu Al-Qur’an merupakan motivator seluruh keluarga untuk haus terhadap ilmu.

Penulis yang pada Pilkada Depok 5 tahun yang lalu sempat menjadi wartawan sekolah yang mengumpulkan info tentang berjalannya Pilkada, menemukan perbedaan spesifik dari proses pemenangan 2 pasangan calon (Pada saat itu pasangan yang maju adalah Nur Mahmudi Isma’il- Yuyun Wirasaputra  dan Badrul Kamal-Syihabuddin Ahmad,). Pak Nur dan tim sukses sangat menjaga prinsip kejujuran dan kebersihan dalam berkampanye, terbukti dari tiadanya money politic, atau menjelek-jelekkan pasangan lain. Alih-alih menghambur-hamburkan uang untuk ‘membeli suara’ pemilih, Pak Nur memilih untuk terjun ke masyarakat dalam amal nyata. Memberikan penyuluhan, bakti sosial, rajin silaturrahim ke masyarakan menengah ke bawah, dll. Dan kepedulian terhadap rakyat dibuktikan dengan program-program pemerintahan yang dipimpin selama 5 tahun bersifat pro rakyat, budaya anti-korupsi dan memajukan Kota Depok. Sehingga terlihat jelas perbedaan Kota Depok sebelum dan sesudah dipimpin oleh pak Nur. Kota Depok yang sebelumnya hanya sebuah Kota kecil di pinggir Jakarta yang semrawut dengan pendapatan asli daerah yang sedikit karena kurang diperhatikan potensinya, sekarang sudah lebih maju, dengan meningkatnya pendapatan asli daerah tiap tahunnya sekitar 30,0 Miliar dan penataan kota yang lebih teratur.

5 tahun sudah berlalu, dan sebentar lagi warga Depok akan memilih kembali Pemimpin yang akan diberi amanah tuk memimpin Kota Depok. Harapannya tentu Pemimpin yang dekat dengan rakyat yang akan memajukan Kota depok demi kesejahteraan rakyat, dan perubahan menjadi semakin baik itu ternyata sudah mulai dirintis sejak 5 tahun yang lalu, lantas mengapa kita harus mengulang lagi dari angka 0? Padahal Perubahan dapat DILANJUTKAN kembali dari angka 3.

Sukseskan Pemilihan Kepala daerah (PILKADA) Depok, 16 Oktober 2010. Ajak sanak-saudara, tetangga, dan kawan-kawan kita ke TPS untuk memilih pemimpin Kota tercinta. Ingat, pilihlah pemimpin yang JUJUR, karena kejujuran akan melahirkan kebaikan. KEBOHONGAN dan CARA-CARA YANG KOTOR yang digunakan dari awal kampanye sudah menunjukkan wajah calon pemimpin yang akan kita pilih. Pilihlah yang DEKAT DENGAN RAKYAT, yang tidak memperkaya diri sendiri selama menjabat, tetapi terus berjuang demi kesejahteraan rakyat. Yang terpenting adalah, Pilihlah  pemimpin yang SIAP MELANJUTKAN PEMBANGUNAN DAN MENERUSKAN PERUBAHAN UNTUK MEWUJUDKAN KOTA DEPOK YANG MAJU DAN SEJAHTERA. (Intan)

Referensi Penulisan :

http://www.depok.go.id

http://www.dakwatuna.com

arsip wawancara dengan Panitia Pengawas Pilkada Depok tahun 2006

 

tribun/Ihsan Mustakim

Ilustrasi

Selasa, 4 Januari 2011 | 14:57 WITA

JAKARTA, KOMPAS.com — Ujian nasional tahun pelajaran 2010/2011 jenjang sekolah menengah atas/madrasah aliyah/sekolah menengah kejuruan (SMA/MA/SMK) akan diselenggarakan 18-21 April 2011.

Sementara jenjang sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs) akan dilaksanakan 25-28 April 2011.

Jadwal UN ini tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 45 Tahun 2010 tentang Kriteria Kelulusan dan Permendiknas Nomor 46 tentang Pelaksanaan UN SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2010/2011 yang ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh Senin (4/1/2011) di Jakarta.

Dalam UN April mendatang sudah digunakan formula baru untuk menentukan kelulusan yaitu nilai gabungan antara nilai UN dengan nilai sekolah yang meliputi ujian sekolah dan nilai rapor.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdiknas Mansyur Ramly mengatakan, UN Susulan SMA/MA/SMK akan dilaksanakan 25-28 April 2011 dan pengumuman kelulusan oleh satuan pendidikan paling lambat 16 Mei 2011.

Sementara UN Susulan SMP/MTs diselenggarakan 3-6 Mei 2011, sedangkan pengumuman UN SMP/MTs oleh satuan pendidikan pada tanggal 4 Juni 2011. “UN kompetensi keahlian kejuruan SMK dilaksanakan sekolah paling lambat sebulan sebelum UN dimulai,” kata Mansyur.

Sebelum kelulusan diumumkan, sekolah mengirimkan hasil nilai sekolah untuk digabungkan dengan hasil nilai UN ke Kemdiknas. Selanjutnya, setelah digabungkan dengan formula 60 persen UN ditambah dengan 40 persen nilai sekolah, nilai tersebut dikembalikan lagi ke sekolah. Sekolah menggabungkan nilai dengan mata pelajaran lain. “Kan ada tujuh mata pelajaran lain yang harus lulus. Yang menentukan kelulusan tetap satuan pendidikan,” kata Nuh.

Nuh melanjutkan, dari peta nilai akan dilakukan analisis setiap sekolah. Sekolah yang nilainya rendah akan dilakukan intervensi seperti tahun 2010 yakni memberikan insentif dana sebesar Rp 1 miliar sebagai stimulus kepada 100 kabupaten/kota yang memiliki nilai UN rendah.

Insentif dana itu diberikan pada kabupaten/kota dengan persentase kelulusan siswa kurang dari 80 persen. Selain dana, pemerintah juga melakukan intervensi program peningkatan kompetensi guru dan remedial. “Tidak ada target khusus kelulusan siswa. Targetnya kejujuran pelaksanaan UN. Itu yang lebih mahal karena dari angka kelulusan tahun lalu sudah 99 persen,” kata Nuh.

Setelah melalui perdebatan yang panjang tentang formula kelulusan ujian nasional 2011, akhirnya Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) mengeluarkan dua keputusan, yakni Permendiknas No. 45 Tahun 2010 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dan Permendiknas Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional. Kedua Permendiknas tersebut selanjutnya dijabarkan oleh BNSP melalui Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor 0148/SK-POS/BSNP/I/2011 tentang Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional.

Yang ingin mengunduh, silakan klik tautan berikut ini!

  1. Permendiknas No 45 tahun 2010
  2. Permendiknas No 46 Tahun 2010
  3. Lampiran-Permendiknas-No-46-th-2010
  4. Prosedur Operasi Standar UN Tahun Pelajaran 2010/2011
  5. Prosedur Operasi Standar Pencetakan Bahan Ujian Nasional

Dalam penafsiran awam saya, point penting yang terkandung dalam Permendiknas tersebut adalah nilai kelulusan UN tidak semata-mata ditentukan berdasarkan hasil UN, tetapi juga mengakomodasi nilai sekolah yang diperoleh berdasarkan rata-rata nilai rapor dan nilai Ujian Sekolah (US). Dengan kata lain, kelulusan UN ditentukan berdasarkan perolehan Nilai Akhir (NA) yang merupakan gabungan antara nilai sekolah (pada mata pelajaran yang di-ujinasional-kan dengan bobot 40%) dan nilai UN (dengan bobot 60%). Nilai sekolah itu sendiri diperoleh dengan menggabungkan rata-rata nilai rapor (bobot 40%) dengan nilai ujian sekolah (bobot 60%). Setelah melalui penghitungan NA, peserta didik dinyatakan lulus UN apabila mencapai rata-rata NA sebesar 5,5 dan tidak boleh ada nilai di bawah 4,0. Ini artinya, mata pelajaran tertentu, misalnya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA untuk jenjang pendidikan SMP, selain diujikan secara nasional juga diujikan melalui ujian sekolah oleh satuan pendidikan masing-masing.

Formula ini jelas sangat berbeda dengan kriteria kelulusan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan nilai UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan UN. Melalui Permendiknas tersebut, agaknya Mendiknas juga ingin menjawab keresahan beberapa kalangan ketika nasib kelulusan seorang peserta didik hanya ditentukan berdasarkan perolehan hasil UN yang hanya ditempuh dalam beberapa hari saja itu. Sedangkan, proses pendidikan yang dilaksanakan peserta didik selama mengikuti aktivitas pembelajaran di tingkat satuan pendidikan terabaikan sama sekali. Melalui formula semacam itu, sekolahsekolah tertentu yang mematok nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan grade yang rendah yang kemudian tertuang di dalam nilai rapor, jelas sangat “rugi” karena mustahil menyulap nilai dalam dokumen rapor yang harus mengacu pada KKM yang telah ditentukan.

Celah yang masih memungkinkan untuk ditembus dalam upaya menggelembungkan nilai peserta didik adalah melalui nilai ujian sekolah. Sekolahsekolah yang “nakal”, bisa jadi akan memanfaatkan celah ini untuk membantu siswa didiknya agar bisa lulus sesuai dengan formula yang telah ditentukan. Kalau dugaan saya ini benar, formula kelulusan UN 2011sebenarnya merupakan sebuah kemajuan atau kemunduran?

Pertanyaan semacam ini tampaknya memang bukan hal yang mudah untuk dijawab. Dari kacamata pendidikan holistik, terobosan yang dilakukan Mendiknas memang layak diapresiasi. Setidaknya, kompetensi peserta didik selama mengikuti proses pendidikan di tingkat satuan pendidikan bisa terpotret lebih utuh. Kelulusan siswa tidak hanya ditentukan berdasarkan perolehan nilai UN semata, tetapi juga mengakomodasi nilai yang diperoleh siswa didik selama mengikuti kegiatan pendidikan di sekolah. Namun, dari sisi kejujuran, formula baru yang ditetapkan Mendiknas, agaknya masih memungkinkan bagi sekolahsekolah yang “nakal” untuk bermain curang dengan menggelembungkan nilai ujian sekolah agar mampu membantu peserta didik dalam mencapai derajat kelulusan.

 

Yang juga layak diapresiasi dari keputusan Mendiknas adalah dihapuskannya UN ulangan. Disadari atau tidak, digelarnya UN ulangan bagi siswa yang dinyatakan tidak lulus telah melunturkan etos belajar anak-anak. Mereka tak mau repot-repot mempersiapkan diri secara matang ketika menghadapi UN. Seandainya tidak lulus pada UN Utama, toh masih ada UN ulangan. Yang menggelikan, nilai yang diperoleh para peserta UN Ulangan pada umumnya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai peserta UN Utama.

Negara kita memang sudah sarat pengalaman dalam menggelar ujian akhir. Namun, sejauh ini agaknya belum ditemukan formula yang tepat, sehingga gagal memotret kompetensi peserta didik secara utuh dan komprehensif. Kita sangat berharap, sistem dan formula UN tahun ini –meski masih terbuka celah untuk menggelembungkan nilai ujian sekolah—benar-benar bisa menjadi “starting point” bagi dunia pendidikan kita dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual. Semoga! ***

me

Ujian Nasional (UN) merupakan istilah bagi penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Berbagai polemik yang berkepanjangan mengenai Ujian Nasional di Indonesia tampak baik bagi demokrasi di negeri ini. Tapi satu hal yang jangan terlupa bahwa siswa peserta UN jangan sampai dibuat ragu atau takut tentang kepastian Ujian Nasional sebagai sarana untuk mengukur kemampuan mereka di bangku sekolahnya. Walaupun UN mengundang pro dan kontra tapi hendaknya tetap di jalur yang semestinya, karena bagaimana pun para siswa terutama siswa SMA / MA adalah para calon Agent of Change yang akan berperan untuk membawa perubahan-perubahan konstruktif bagi negeri ini. Oleh karena itu agar keraguan berkurang di kalangan dunia kependidikan, kami dari Tim Ujian Nasional mencoba menyampaikan beberapa hal yang dipandang penting terutama dalam hal dalam kebijakan UN 2011 yang tentunya diharapkan dapat menjadi bekal bagi para siswa agar mereka cukup persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional 2011.Kami persembahkan Situs ini untuk kemajuan Bangsa Indonesia khususnya di bidang Pendidikan. Tim Ujiannasional.org didukung oleh Admin yang berpengalaman di bidang pendidikan pada umumnya.

Visi Misi

Posted: February 17, 2011 in Politeknik LP3I Jakarta Kampus Depok

VISI

Menjadi Lembaga Pendidikan yang terus menerus menyelaraskan kualitas pendidikannya dengan kebutuhan dunia kerja dalam pembentukan Sumber Daya Manusia yang profesional, beriman dan bertaqwa.

MISI

  1. Mencetak Sumber Daya Manusia yang siap kerja dengan kemampuan yang terampil dan profesional.

  2. Membentuk kepribadian Sumber Daya Manusia yang memiliki jiwa dan kemampuan berwirausaha.

  3. Membentuk Sumber Daya Manusia yang berbudi luhur.

  4. Membangun jaringan kemitraan dengan dunia usaha dan industri serta asosiasi profesi, didalam dan luar negeri.

  5. Memiliki LP3I Networking melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

  6. Menjadi lembaga pendidikan terbaik dengan kualitas berstandar Internasional.

  7. Memiliki Jaringan LP3I di dalam dan luar negeri.

  8. Menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya dan bermanfaat bagi masyarakat.

  9. Memberikan kesejahteraan dan rasa aman bagi karyawan dan keluarganya.